Terkungkung
Beberapa hari yang lalu ngewawancara suami sepupuku yang ternyata aktor teater internasional. Tiba-tiba aku ngerasa bodoh dan sempit. Ternyata walaupun aku sekolah tinggi, tapi aku mengalami pembodohan karena berada di lingkungan itu-itu aja dengan orang-orang ‘sejenis’. Bahkan keluargaku pun termasuk orang-orang ‘sejenis’ tadi, yang pastinya udah ketebak cara berpikirnya, yang selalu berada di ‘jalur aman’ dengan cara berpikir konvensional, tanpa berani mengambil sikap untuk melakukan suatu perubahan atau mengambil keputusan yang akan membuat orang lain mengerutkan dahi.
Selama ini kayanya aku selalu ngikutin ‘alur yang seharusnya’, misalnya sekolah di sekolah negeri sampe kuliah dan nyari kerja tetap. Seperti ajaran kompeni di masa jajahan Belanda, orang akan tampak terhormat kalau sekolah tinggi dan bekerja tetap di kantoran. Padahal toh banyak juga orang ngga berpendidikan tinggi tapi makmur-makmur aja, karena mereka banyak ‘belajar’, bukan sekolah. Beda kan? Ya ngga? Malah banyak juga yang sekolah tinggi dengan alasan prestige...weleh..
Lebih gilanya lagi, aku dari dulu berada di lingkungan dengan orang-orang ‘sejenis’, dengan cara berpikir serupa dan dengan latar belakang keluarga ngga jauh beda. Tiba-tiba nyadar kalo selama ini aku terkungkung dengan orang-orang ‘sejenis’. Ini jelas-jelas membuat cara berpikir semakin sempit.
Walopun aku punya kadar jiwa pemberontak lebih tinggi dibandingin kakak-kakakku dan sering disebut ‘silobakahayang’, tapi ternyata aku blm punya cukup keberanian untuk melakukan sesuatu yang beda dan berani melawan ‘jalur aman’ tadi.
Gimana kalo nanti aku menikah dengan orang ‘sejenis’ juga? Memang itu berarti aku berada di ‘jalur aman’, tapi aku akan tetap terkungkung, bahkan kemudian akan mengungkung anak-anakku (kalo punya), dan yang jelas jiwa pemberontak tadi lama2 makin melempem. Hehehe..
Trus gimana yah....pusing ah, males mikirinnya...yang jelas, justru aku berharap ngedapetin orang yang punya banyak perbedaan denganku...aneh ngga sih..
Selama ini kayanya aku selalu ngikutin ‘alur yang seharusnya’, misalnya sekolah di sekolah negeri sampe kuliah dan nyari kerja tetap. Seperti ajaran kompeni di masa jajahan Belanda, orang akan tampak terhormat kalau sekolah tinggi dan bekerja tetap di kantoran. Padahal toh banyak juga orang ngga berpendidikan tinggi tapi makmur-makmur aja, karena mereka banyak ‘belajar’, bukan sekolah. Beda kan? Ya ngga? Malah banyak juga yang sekolah tinggi dengan alasan prestige...weleh..
Lebih gilanya lagi, aku dari dulu berada di lingkungan dengan orang-orang ‘sejenis’, dengan cara berpikir serupa dan dengan latar belakang keluarga ngga jauh beda. Tiba-tiba nyadar kalo selama ini aku terkungkung dengan orang-orang ‘sejenis’. Ini jelas-jelas membuat cara berpikir semakin sempit.
Walopun aku punya kadar jiwa pemberontak lebih tinggi dibandingin kakak-kakakku dan sering disebut ‘silobakahayang’, tapi ternyata aku blm punya cukup keberanian untuk melakukan sesuatu yang beda dan berani melawan ‘jalur aman’ tadi.
Gimana kalo nanti aku menikah dengan orang ‘sejenis’ juga? Memang itu berarti aku berada di ‘jalur aman’, tapi aku akan tetap terkungkung, bahkan kemudian akan mengungkung anak-anakku (kalo punya), dan yang jelas jiwa pemberontak tadi lama2 makin melempem. Hehehe..
Trus gimana yah....pusing ah, males mikirinnya...yang jelas, justru aku berharap ngedapetin orang yang punya banyak perbedaan denganku...aneh ngga sih..


2 Comments:
Tidak ada yang salah kan dengan "jalur aman"? byk orang yang berhasil dengan tetap berada di jalur aman.
Dan tidak sedikit orang yang gagal karena keluar dari jalur aman.
Yakin ingin dengan orang yang berbeda?
Bukannya sudah pernah dengan orang yang sangat berbeda? berhasil kah?
'aman' dan 'tidak-aman' relatif Nenk! B-)...
Seperti di blog-ku aku kutip tentang tulisan Prof. Dweck, menurutnya, (bahasa bebas dari aku) siapa yang menyukai tantangan akan bersahabat dengan tantangan itu.
Jadi sesuatu yang sudah bisa kita atasi akan menjadi 'aman' tapi bagi yang suka tantangan, Ia akan tidak jalan ditempat !
ocey ?!
(me-juga)
Post a Comment
<< Home